Bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk terus berbagi cerita dengan kawan-kawan semua,akhirnya kami dapat membagi sedikit ilmu dan kesempatan yang diberikan oleh ALLAH Swt kepada kami dalam hal modifikasi mesin, masih di dapur pacu mas kevin kali ini saya akan membhahas korek mesin balap ala Load Race.

berbekal kemampuan yang dimiliki mas kevin dalam membidani mobil balap drag saya dulu, tentu bukan hal yang sukar memahami kinerja mesin berbasic dua noken as dalam satu kepala silinder atau terkenal dengan istilah DOHC. Apalagi selama ini, spesialisasi kami dalam menangani mesin 4 klep, seperti yamaha Jupiter MX tidak pernah berhenti dalam belajar, riset, dan inovasi. InsyaALLAH, korekan simple ini akan sangat mengena.

Fokus tetap pada modifikasi sektor otak tenaga motor 4 ketuk, yaitu pada desain kepala silinder, noken as, konfigurasi katup, jalur pemasukan dan pembuangan bahan-bakar, serta perbandingan kompresi. Katub standard yang berdimensi 22 milimeter pada inlet dan 19 milimeter pada outlet, pastinya langsung kita lengserkan, lha wong MX aja biasanya pake katub Satria F bahkan spec 2010 mengadopsi katub yang lebih besar lagi, masak satria F pake katub standardnya.

Sebenarnya apa kurang besar sih katub standard FU? Untuk desain motor standard itu sudah lebih dari cukup. Dengan dimensi piston berdiameter 62mm, katub inlet fu yang berdiameter 22mm itu kalau di konversi menjadi single valve aslinya sudah sebesar 31mm.

didapat dari perkalian konstatanta Phi dengan kuadran jari-jari katub. Hasil itu dikalikan jumlah katub yang sebanyak 2 biji, didapat 760 mm persegi. Nah luasan ini akan kita pakai untuk mencari diameter katub jika Fu itu memaki single valve saja, maka 760 dibagi konstanta 3,1416, hasilnya kemudian di akar kuadrat untuk mencari jari-jari katub bayangan. Ketemu hasil akhirnya = 15,55mm itu jari-jari katubnya. Nah kalau diameternya berarti ya 31mm toh.

Ditengah kesemrawutan, kemelut langsung tercipta di tikungan pertama selepas start alias R1. Tiga FU di barisan terdepan yang memimpin memasuki tikungan R1 lebih dulu malah ketiban apes, secara berantai ndelosor mencium aspal dan terseret ke gravel, salah satunya. Kondisi aspal sentul yang baru selesai ditambal sulam dan masih licin dispot-spot tertentu diduga jadi salah satu biang keladinya. Terbukti, di lap berikutnya pun beberapa peserta lain turut jadi korban, kehilangan grip ban secara tiba-tiba.

 

Si Jago yg mampu lolos dari accident secara konsisten terus melaju kedepan hingga akhirnya panitia mengibarkan bendera merah tanda race dihentikan untuk mencegah insiden lebih banyak. Final result: si Jago sukses menggondol piala Juara 3 di keikutsertaan perdananya itu.

Walau trek sirkuit sedikit terganggu oleh cone pembatas, namun race tetap berlangsung seru dan menampilkan tontonan atraktif. Duel paling ketat dan mendebarkan dipertontonkan dua pemimpin rombongan terdepan, yang tak lain adalah si Jago vs CBR lama polesan WMC racing. Keduanya saling tempel dan kejar kejaran begitu rapat memperebutkan posisi terdepan. Sayang, walau sempat memimpin selama beberapa putaran, Si jago akhirnya kehilangan posisi di U turn terakhir menjelang finish. Gangguan pada tuas persneleng membuatnya mengendur saat harus cepat keluar dari tikungan U-turn terakhir menuju straight finish. Tertinggal tipis saat memasuki finish line, Si jago pun harus puas merengkuh posisi 2 di keikutsertaanya yang kedua ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here