Test Ride Honda CRF1000L Africa Twin DCT – dipasarkan PT Astra Honda Motor 3 Februari 2017 lalu. dengan pilihan dua transmisi yang pertama manual dengan harga Rp464 juta (OTR Jakart), dan yang tipe versi DCT (Dual Clutch Transmission) yang dijual Rp 499 juta.

sebagai motor penjelajah desainya sangat tinggi, kekar, dan di lengkapi dengan kaki-kaki seperti motor trail. di bagian ban depan sebenarnya kecil ukurannya untuk motor 1000cc hanya 90/90 ring 21 Tube Type. sedangkan yang belakang menggunakan 150/70 Ring 18 Tube Type.

menggunakan pelek jari-jari yang mana karakter pelek ini sangat kuat untuk menghadapi jalur yang berbagai kondisi. kemudian suspensinya sendiri menggunakan Upside down diameter 45 mm dibagian depannya yang mempunyai jarak main yang sangat panjang sekitar 230 mm. termasuk yang di bagian belakang menggunakan suspensi monosok Pro-Link dengan jarak main 220 mm.

seperti diketahui motor ini memiliki postur yang tinggi dan besar, ketika di tunggangi mungkin akan jinjit kakinya akan tetapi untuk postur orang indonesia bisa menapakan kakinya dengan menyeting di bagian joknya dengan jarak 850 mm  untuk posisi seting jok rendah dan 870 mm untuk posisi jok tinggi.cara menyetel setingan tinggi dan rndah jok sangat mudah tinggal tarik jok dan posisikan pengait pada dudukan rangkanya

satu lagi yang mempengaruhi saat kita duduk adalh suspensi belakangnya semakin low setingan prelodenya tentunya saat di duduki motor semakin amblas, justru sebaliknya apa bila di posisi high tentu semakin mengeras juga tingkat duduknya. pre lode ini juga berpengaruh redaman saat jalan tentunya saat di stel tinggi akan mengeraskan ayunan suspensinya namun jagan perlu khawatir karna dapat di stel stelan reboonnya. jadi suspensi belakang ini full adjustable.

berbeda dengan suspenis depan ada stelan stension di atasnya sedang stelan kompresinya ada di bawah. karakter stelan suspensi pabriknya sangat nyaman berkendara di berbagai kondisi jalan untuk jenis motor yang adventure, empuk sekali jalanan rusak pun terasa mulus saat dilaju.

hanya saja saat di jalanan mulus masih sangat ngayun saat bertemu di tikungan namun itu semua bisa teratasi dengan kita myetel suspensi depan serta belakangnya.

lalu fitur lain yang menunjang perjalanan menggunakan motor ini adalah di bagian lampunya dengan tampang yang cukup gahar dengan lampu LED. lalu windshield tinggi yang mirip besutan rally dakar, lalu handgurad sudah menjadi standar. lalu dibelakang sudah di sediakan behel dengan lubang- lubang dudukan boxnya yang mana Boxnya dijual terpisah sebagai aksesoris honda.

di bagian setang kiri ini tidak ada tuas kopling melainkan tuas rem tangan di gunakan saat kita berhenti di tanjakan atau turunan dengan parkingbradlocknya skutik honda

salah satu yang spesial dari motor ini yakni penggunaan transmisi DCT, kontrol utama DCT ini terletak di stang bagian kanan Pencet sekali masuk D (drive), tekan sekali lagi masuk S (sport), sebaliknya pencet ke kanan kembali ke netral. Sebagai catatan jika standar samping belum dilipat enggak bisa ya! Jika masuk D dan ngegasnya santai, maka transmisi bekerja untuk mengejar efisiensi, secepatnya otomatis masuk ke gigi tinggi agar putaran mesin jadi rendah, tentu biar irit.

Test Ride Honda CRF1000L Africa Twin DCT

Tapi jika digeber, perpindahan gigi terjadi di rpm yang lebih tinggi. Lalu saat gas ditutup dan kecepatan menurun, maka gigi otomatis diturunkan juga tapi kalem.

Nah bila pakai mode S, karakternya langsung berubah jadi agresif, perpindahan gigi terjadi di putaran tinggi, bahkan kalau gas putar mentok baru pindah sesaat sebelum redline di 7.500 rpm.

Begitu juga saat kecepatan turun, otomatis langsung turun gigi dengan cepat sehingga engine brake sangat terasa.

Mode S ini sendiri ada 3 tingkat, memilihnya tekan tombol DCT ke kiri dan tahan. Dalam posisi 3 bar, maka power paling galak, 2 sedang dan 1 paling smooth.

pada tombol A/M dibawah tombol DTC ini berfungsi sebagai Perpindahan gigi manual. untuk menaikan serta menurunkan posisi giginya ada di bagian kiri stang tombolnya. dengan respon yang mirip motor manual. termasuk sensais suaranya saat  tombol ditekan gigi berpindah disertai bunyi ” ceklek” seperti motor dengan tuas perpindahan gigi pada kaki.

Maklum sesuai namanya, DCT ini kopling untuk rasio genap dan ganjil ada masing-masing, sehingga ketika masuk gigi 1, gigi 2 sudah siap, demikian seterusnya sampai gigi 6.

Oiya ketika pada posisi D atau S, ternyata gigi tetap bisa dipindah manual. Misal di D yang karakternya serasa malas turun gigi, maka pencet saja tombol berlambang – (minus).

Begitu juga dalam mode manual, jika kita telat turun gigi padahal putaran mesin sudah terlalu rendah, maka gigi otomatis diturunkan. Canggih ya?

Transmisi DCT ini menyalurkan tenaga dari mesin 2 silinder segaris dengan konstruksi noken as Uni-cam khas keluarga special engine CRF, kelebihannya konstruksi kepala silinder jadi ringkas.

masih bicara tombol di setang kiri banyak sekali tombol ada tombol selec dan set untuk mengatur info yang ada di speedometer

Konsumsi Bensin

Dipakai untuk melibas berbagai kondisi jalan, termasuk kemacetan, semi off-road dan luar kota yang lancar sekitar 250 km di layar tercantum angka 13,3 km/liter.

Data Tes :
0-60 km/j: 2,5 detik
0-80 km/j: 3,3 detik
0-100 km/j: 4,3 detik
0-100 m: 5,6 detik (@123,5 km/j)
0-201 m: 8,3 detik (@147,4 km/j)
0-402 m: 12,8 detik (@168,6 km/j)
Konsumsi bensin: 13,3 km/lt

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here